“Oleh-oleh” Diskon Minyak dari Arab

Deborah

Jakarta, mediaintegritas.com - Dalam kunjungan Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz al-Saud ke Indonesia,  ada sebuah kerjasama penting yang akan dibicarakan dengan Indonesia.  Salah satu yang akan dibahas dalam kunjungan yang berlangsung selama 1-9 Maret 2017 tersebut adalah mengenai kerja sama di bidang minyak dan gas (Migas).

Kepala Biro Komunikasi Layanan Publik dan Kerja Sama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sujatmiko mengatakan, kerja sama terkait minyak yang akan ditawarkan kementeriannya adalah impor minyak dengan harga spesial atau preferred price.

Menurut Sujatmiko, masalah tersebut sebelumnya sudah dibicarakan Menteri ESDM Ignasius Jonan dengan Menteri Energi Arab Saudi di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UAE), Januari lalu.

"Waktu itu Pak Menteri minta agar Indonesia masuk ke daftar negara yang bisa membeli minyak dengan harga preferred price, yang berbeda (lebih murah) dari harga normal. Jadi kami ingin mendorong dan mengingatkan pihak Arab Saudi soal itu," kata Sujatmiko di Gedung Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (24/2).

Sujatmiko belum bisa merinci mengenai berapa banyak minyak yang akan diimpor jika harga preferred tersebut bisa diberikan Arab Saudi. Namun dia mengatakan jika kerja sama tersebut nantinya akan menggunakan skema G to G (Government to Government) atau antar pemerintah.

"Kami pelajari dulu bagaimana skemanya nanti. Aramco (perusahaan minyak Arab Saudi) juga akan ke sini, jadi ini reciprocal relationship (hubungan timbal balik)," tuturnya.

Adapun dalam kunjungannya, Raja Salman juga akan melakukan penandatanganan kerja sama dengan Indonesia untuk suntikan modal investasi senilai 6 miliar dolar AS oleh Saudi Aramco untuk proyek perluasan kapasitas dan kompleksitas kilang (Refinery Development Master Plan/RDMP) di Cilacap, Jawa Tengah.

Dalam pertemuan itu, Jonan meminta agar Indonesia dimasukkan dalam daftar prefered nation untuk impor minyak dari Arab Saudi, sehingga bisa mendapat preferred price. Dengan menjadi preferred nation, Indonesia bisa mendapatkan harga minyak yang lebih murah dibanding harga normal.

Pada saat kunjungan Raja Salman nanti, 'diskon' harga minyak dari Arab Saudi ini akan kembali dbicarakan. Kementerian ESDM juga mendorong agar GACA, operator Bandara Internasional King Abdul Aziz di Jeddah, segera memberikan lisensi kepada PT Pertamina (Persero) supaya BUMN perminyakan Indonesia ini bisa berjualan avtur di bandara mereka.

Rencananya, Pertamina akan membentuk perusahaan patungan (Joint Venture/JV) dengan perusahaan lokal Arab Saudi, Dallah, untuk menjadi penyedia avtur di Bandara King Abdul Aziz.

"Pertamina dengan GACA agar dapat izin untuk menjadi penyedia avtur di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah. Pertamina akan membentuk JV dengan Dallah," tukasnya.

Sejumlah proyek kilang juga akan ditawarkan kepada BUMN perminyakan Arab Saudi, Saudi Aramco. Saat ini Pertamina dan Saudi Aramco sudah bekerja sama di proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Cilacap. Kesempatan masih terbuka bagi Saudi Aramco jika ingin masuk ke proyek-proyek kilang lainnya. "Indonesia mengapresiasi terjalinnya kerja sama Pertamina dan Saudi Aramco pada proyek RDMP Cilacap. Pertamina juga akan menawarkan proyek-proyek kilang lain kepada Saudi Aramco," tutupnya. (Debby)

Bagikan :

Berita Lainnya