FORD, PANASONIC DAN TOSHIBA TUTUP

HAS
FORD, PANASONIC DAN TOSHIBA TUTUP

Jakarta, mediaintegritas.com - Tidak ada yang tahu sebenarnya apa yang terjadi dengan tiga perusahaan yang memiliki nama besar, diawali pengumuman PT Ford Motor Indonesia segera tutup dikarenakan alasan efisiensi dan kurangnya penjualan menjadi alasannya tutup di semester pertama 2016 ini, belum selesai khabar mengagetkan tersebut  muncul kembali khabar  rencana penutupan usaha PT Panasonic Lighting di Cikarang, Jawa Barat, dan Pasuruan, Jawa Timur, serta PT Toshiba Indonesia di Cikarang akan berdampak pada pemutusan hubungan kerja ribuan pekerjanya, ada apa sebernarnya.

Menurut Said Iqbal selaku Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KPSI)  dalam konfrensi Pers di Hotel Mega Jakarta, menjelaskan ribuan pekerja itu terdiri atas sekitar 1.700 anggota KSPI di PT Panasonic dan 970 anggota KSPI di PT Toshiba. Ia merinci, sebanyak 600-700 pekerja dari Panasonic Lighting Pasuruan di-PHK pada periode Desember 2015-Januari 2016. 

Sementara itu, Panasonic Lighting Cikarang-Bekasi, sejumlah 900-1.000 karyawan di-PHK untuk periode Januari 2016 sampai dengan Maret 2016.

Kedua pabrik Panasonic Lighting ini resmi ditutup. Pabrik Toshiba di Cikarang-Bekasi pun mengumumkan ditutup pada pertengahan Januari lalu. Saat ini, pekerja tengah dalam proses negosiasi pesangon. Perusahaan akan resmi berhenti beroperasi pada Maret mendatang.

Said Iqbal mengatakan, tutupnya Panasonic Lighting dan juga Toshiba ini memberikan sinyal negatif terhadap investor asing yang akan datang ke Indonesia. Selain itu, yang paling buruk menurut Said adalah lantaran Kementerian Perindustrian tidak mengetahui penutupan pabrik ini.

Faktor lesunya industri elektronik ini, menurut Said Iqbal, di antaranya adalah kondisi pasar yang tidak kondusif. Melambatnya pasar global turut memengaruhi pasar domestik. Perlambatan ini mengakibatkan barang produksi menjadi tidak laku di pasaran. Selain itu adalah karena menurunnya daya beli masyarakat.

Manajemen Panasonic Lighting dan Toshiba mengklaim, penutupan pabrik bukan lantaran upah buruh yang tinggi, melainkan karena sepinya pasar dan penurunan daya beli. 

Faktor lain ialah kegagalan paket kebijakan pemerintah Joko Widodo-Jusuf Kalla di tingkat implementasi karena justru banyak perusahaan yang tutup. Faktor ketiga, menurut Said Iqbal, adalah retorika paket kebijakan hanya untuk menyenangkan investor. Padahal, kenyataannya investor memilih wait and see untuk masuk ke Indonesia lantaran banyak yang hengkang. 

Menteri Perindustrian Saleh Husin mengaku belum mendengar kabar bahwa pabrik PT Panasonic Lighting dan PT Toshiba di Indonesia akan tutup tahun ini. "Saya baru dengar info tersebut, kami akan cek,” ujarnya awak media  Rabu, 3 Februari 2016. 

Saleh merespons pernyataan Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia Said Iqbal yang menyebutkan soal rencana penutupan usaha PT Panasonic Lighting di Cikarang, Jawa Barat, dan Pasuruan, Jawa Timur, serta PT Toshiba Indonesia di Cikarang pada April 2016. 

Lebih jauh, Menteri Saleh menyebutkan pihaknya akan mengecek kebenaran kabar tersebut terlebih dulu. “Dan apabila benar, maka akan kami koordinasikan kira-kira faktor apa saja yang menjadi penyebabnya," tuturnya.

Rachmat Gobel selaku CEO Panasonic Gobel Indonesia, mengakui salah satu pabriknya tutup dan sejumlah karyawan di PHK. Salah satu alasannya adalah produk yang kalah bersaing dengan produk impor China, sedangkan dari Pihak Toshiba saat dihubungi redaksi tidak dapat dihubungi.

Sementara peneliti senior dari Integritas Studies Centre (ISC) Rapen Agustinus, MM menyatakan hengkannya perusahaan  ini bukan tiba-tiba sudah melalui proses yang sangat panjang, mereka sudah menginvestasikan dana yang sangat besar, kalaupun tutup pastinya disebabkan hitungan bisnis yang sangat akurat, adapun insentif yang ditawarkan pemerintah melalui kebijakan Paket ekonomi yang digembar-gemborkan hampir dipastikan tidak berjalan alias berjalan sendiri-sendiri karena kurang komunikasi dan inisiatif dari pemerintah  cenderung lambat, terbukti pemerintah tidak siap dan tidak tahu bahwa gejolak perindustrian begitu mengkwatirkan bilamana tidak diberikan stimulus atau insentif bagi para pengusahan atau investor tentunya akan timbul gejolak ekonomi, semoga pemerintah lebih cepat tanggap menghadapi persoalan ini, yang dibutuhkan ada tindakan nyata dari pemerintah bukan hanya retorika dan regulasi yang tumpang tindih yang tingkat inplementasinya saling menyadera atau sulit direaliasasikan. (Debby)

Bagikan :

Berita INTEGRITAS