HARY TANOE TERSANGKA DAN DICEKAL , PERINDO LIMBUNG

Deborah

Jakarta, mediaintegritas.com - Direktorat Siber Bareskrim Polri menetapkan Hary Tanoe sebagai tersangka berdasarkan gelar perkara pada 14 Juni 2017. Keesokan harinya, pada 15 Juni 2017 dikirim Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) kepada Hary Tanoe. 

Penetapan tersangka Hary Tanoe didasari hasil gelar perkara dengan alat bukti keterangan saksi, keterangan ahli, surat dan petunjuk.

"Penetapan Hary Tanoe sebagai tersangka berdasarkan,  Keterangan saksi, ahli, surat, petunjuk,"  Ujar Direktur Siber Bareskrim Polri, Brigjen Fadil Imran. 

Bahkan Bareskrim Polri sudah mengirimkan surat permohonan pencegahan ke luar negeri Hary Tanoesoedibjo ke Direktorat Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM (Ditjen Imigrasi Kemenkumham).

Dikonfirmasi terpisah Kepala Humas Ditjen Imigrasi Kemenkum HAM Agung Sampurno, membenarkan masuknya permohonan pencekalan Hary Tanoe.  Agung juga menjelaskan bahwa masa pencekalan Hary Tanoe berlaku per tanggal 22 Juni 2017 hingga 20 hari ke depan. 

"Sudah ada permintaan pencegahan Hary Tanoe, berangkat ke luar negeri selama 20 hari," ujar Agung dikonfirmasi terpisah.

Pihak Mabes Polri menyatakan surat pemberitahuan stastus tersangka telah dikirimkan ke Hary Tanoe, Disitu tertera, saudara HT tertulis sebagai tersangka dengan melanggar Pasal 29 juncto Pasal 45 ayat 3 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008. Ujar Rikwanto.

Hary Tanoe dijadwalkan diperiksa sebagai tersangka pada hari Selasa, 4 Juli 2017. Sementara pihak pengacara Hary Tanoe mengaku belum mendapat tembusan SPDP dari Bareskrim Polri. Pengacara juga menegaskan SMS Hary Tanoe yang dikirim ke jaksa Yulianto pada 5 Januari 2016 bukanlah ancaman.

"Kalau kami kuasa hukum dari awal clear melihat tidak ada ancaman sama sekali dalam SMS itu. Ini kasus bermuatan politis daripada kasus hukum. Kalau kita baca SMS tidak ada satu pun kalimat mengancam ini jelas, clear," ujar Adi.  (Debby)
 

Bagikan :

Berita Lainnya