Indonesia Terancam Kehilangan 50 Juta Peluang Kerja

Deborah

Jakarta, mediaintegritas.com - Dampak Disrupsi Ekonomi  tidak main-main. Sebuah kondisi dimana pekerjaan manusia akan digantikan robot dan kecerdasan buatan.

Potensi ancaman ini disampaikan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas)/Menteri PPN Bambang Brodjo negoro, mengutip hasil simulasi lembaga riset internasional MC Kinsey.

Bahkan,  dunia akan kehilangan 800 juta pekerja hingga tahun 2030 karena tergantikan robot dan teknologi otomatisasi, mengutip riset perusahaan konsultan McKinsey & Co di ujung 2017 lalu.

Bambang mengungkapkan itu dalam sebuah seminar di Nusa Dua, Bali, Selasa (6/2) lalu. Memang, belakangan ini sejumlah sektor sudah bersiap mengurangi pekerjanya, seperti pengelola jalan tol yang menerapkan pembayaran dengan penggunaan kartu. Sektor perbankan juga bersiap mengurangi pegawainya karena akan meningkatkan layanan secara online. Begitu juga layanan tiketing pesawat, kereta api dan kapal akan menggunakan mesin anjungan mandiri.

“Memang bagus jika membuat semakin manusiawi, misalnya, kuli angkut pelabuhan  digantikan  crane dan forklift. Para konsumen pun tinggal memesan melalui online, tak perlu lagi berkunjung ke pusat-pusat belanja, sehingga hemat waktu dan barangnya diantar langsung ke rumah. Tapi saya kira tak semua akan tergerus. Pekerjaan koreografer dan pelukis rasanya tak mungkin diambil alih teknologi dan komputer. Termasuk pelatih fitness, jadi atlet dan seniman. Masih ada guru TK, SD, SMP dan SMA serta dosen,” ujar Bambang.

Bambang melanjutkan memang masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan oleh manusia. Sebutlah,reporter, petani, nelayan, dokter, perawat, bisnis kuliner, serta pedagang di pasar. Bahkan wakil rakyat, penegak hukum, pejabat hingga presiden tak mungkin digantikan oleh mesin.

Memang telah terjadi migrasi, misalnya, dari cangkul menjadi traktor, media cetak ke online, taksi konvensional ke taksi online, juga toko ritel ke  toko online. Pelakunya tetap manusia, namun memerlukan SDM yang terampil memakai  teknologi.

Sejumlah pengamat ekonomi menilai ancaman disrupsi ekonomi tidak bisa dihindarkan. Namun, di sisi lain, perubahan tersebut juga menghadirkan sejumlah peluang. Untuk itu, mereka meminta pemerintah melakukan menghadirkan inovasi yang mampu memanfaatkan disrupsi ekonomi, termasuk memberdayakan tenaga kerja yang menjadi korban.

Meski di satu sisi disrupsi ekonomi merugikan kalangan pekerja, di sisi lainnya juga memunculkan begitu banyak peluang pekerjaan baru. Hal inilah harus menjadi perhatian pemerintah. Misalnya saja, kata dia, perlu adanya upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia. Tujuannya agar disrupsi ekonomi menjadi momentum meraih kesempatan baru.

Bagikan :

Berita INTEGRITAS