Maskapai Garuda Rugi Trilyunan

Deborah

Jakarta, mediaintegritas.com - Pemerintah melalui Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tengah mengevaluasi sejumlah BUMN yang memiliki kinerja kurang baik. Di antaranya perusahaan pelat merah yang merugi adalah PT Garuda Indoensia, Tbk.

Saat ini Garuda Indonesia membukukan kerugian pada semester I tahun 2017 sebesar 281,92 juta dollar AS atau Rp 3,66 triliun (kurs Rp 13.000). Kerugian maskapai tersebut naik 343,33 persen dibandingkan semester I tahun 2016 sebesar 63,59 juta dollar AS atau Rp 826,6 miliar.

Direktur Utama Garuda Indonesia, Pahala N Mansury mengatakan, kerugian tersebut salah satunya disebabkan oleh biaya bahan bakar avtur yang terus membengkak pada semester I hingga sebesar 571,1 juta dollar AS atau Rp 74,24 triliun.

Kerugian lainya disumbangkan dari pembayaran amnesti pajak sebesar 137 juta dollar AS atau Rp 1,78 triliun. Selain itu perseroan juga membayar denda ke pengadilan Australia sebesar 8 juta dollar AS atau Rp 104 miliar. Itu karena kasus persaingan tidak sehat kargo pada tahun 2012.

Meski demikian, ungkap Pahala, perseroan mencatatkan pendapatan operasi pada semester I tahun 2017 sebesar 1,9 miliar dollar AS atau Rp 24,7 triliun. Nilai tersebut naik 7 persen dibandingkan tahun lalu.

"Tingkat keterisian penumpang pada semester I juga naik tercatat 73,3 persen dibandingkan tahun lalu sebesar 70,8 persen," ," ujar Pahala saat konferensi pers di Kantor Garuda Indonesia Pusat, Tangerang, Kamis (27/8/2017) yang lalu. 

Menteri BUMN Rini Soemarno mengatakan, seiring kerugian yang ditanggung Garuda, pihaknya tengah mengevaluasi rute-rute yang diterbangi maskapai nasional tersebut.

"Kita sedang restrukturisasi. Rute-rutenya kita sedang lihat kembali, efisiensi dilakukan," kata dia di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Kamis (31/8/2017) saat mendamping presiden Jokowi.

Upaya lain agar mendorong kinerja maskapai ini, Rini menerangkan,  rencana Garuda Indonesia untuk melepas sebagian saham anak usahanya, PT Garuda Maintenance Facility (GMF) Aero Asia, ke publik (initial public offering/IPO.

Melalui kinerja GMF diharapkan bisa membaik sehingga dapat menopang pendapatan Garuda Indonesia sebagai induk usaha. "GMF semoga bisa listing sebelum akhir tahun, semoga mendapat pendapatan yang lebih untuk Garuda," ujar Rini

GMF Aero Asia rencananya mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Oktober 2017. Jumlah saham yang akan dilepas ke publik di kisaran 20-30 persen.

"Target GMF akan listing di IDX pada Oktober 2017, dan mempunyai peluang IPO terbesar di Indonesia pada 2017," ujar Presiden &CEO GM AeroAsia Iwan Joeniarto kepada redaksi Integritas, Senin ( 4/9/2017).

Dia menuturkan, perseroan akan menggelar penawaran saham perdana ke publik atau initial public offering (IPO) untuk mendukung visi menjadi top 10 maintenance, repair, and overhaul (MRO) di dunia. Perseroan akan melepas sebesar 20-30 persen dari ekuitas dalam rangka IPO tersebut. (ocha)

Bagikan :

Berita Lainnya