Nasabah RI Transfer Dana 18,9 T

Deborah

Jakarta, mediaintegritas.com - 

Kehebohan terjadi ketika uang senilai 18,9 Triliun ditransfer atas nama perorangan.  Dana sebesar itu ditransfer nasabah Indonesia dari Guernsey (Inggris) ke Singapura. Transfer dana tersebut dilakukan pada akhir 2015 atau tepat sebelum Guernsey menerapkan "Common Reporting Standard", sebuah kesepakatan global pertukaran informasi secara otomatis terkait pajak. Sehingga terindikasi sementara terdapat pelanggaran perpajakan dengan menghindari atau menyembunyikan aset guna menghindari kewajiban pajak (tax evasion). Regulator keuangan di Eropa dan Asia Tengah sedang memeriksa Standard Chartered terkait transfer dana Rp 18,9 triliun.

Sebenarnya informasi ini ternyata sudah diterima Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). "PPATK mulai Januari sudah menerima informasi itu secara berangsur-angsur," ujar Kepala PPATK, Kiagus Ahmad Badaruddin.

Kiagus menjelaskan, isi informasi itu adalah ada transfer dana warga negara Indonesia tersebut. Selanjutnya, informasi tersebut sudah diteruskan ke instansi yang berwenang. Namun, Kiagus enggan mengungkap dari mana sumber informasi itu. Dia juga menolak menyebut informasi itu tersebut diserahkan ke instansi mana.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Pajak, Ken Dwijugiasteadi, menjelaskan sudah berkoordinasi dengan pihak Standard Chartered terkait temuan itu. "Mereka lapor kok, Stanchart ke kita, kasih tahu suruh ikut betulin SPT-nya," ujar Ken di Bursa Efek Indonesia, Jumat (6/10/2017).

Cuma, Ken enggan mengungkap jati diri nasabah tersebut. Yang jelas, Ken menegaskan sudah berkoordinasi dengan pihak Standard Chartered.

Sementara itu, Direktur P2 Humas Pajak, Hestu Yoga Saksama, menambahkan Ditjen Pajak akan merespons laporan tersebut.

Lantas, wajarkah transfer dalam jumlah sebesar itu?

Direktur Eksekutif Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA), Yustinus Prastowo, menjelaskan perpindahan dana antar bank dengan nilai triliunan memang bisa dilakukan oleh nasabah pribadi, namun bisa memicu kecurigaan pihak bank.

"Sebenarnya transfer sebesar itu bisa dilakukan (atas nama pribadi). Tapi kan profilenya mencurigakan," kata Prastowo.

Menurutnya, perpindahan dana sebesar itu wajar bila dilakukan atas nama perusahaan, tapi berbeda jika dilakukan nasabah pribadi.

Dia menambahkan, ada dua kemungkinan bila transfer itu dilakukan atas nama pribadi. Pertama, nasabah tersebut merupakan pengusaha yang sangat kaya. Kedua, dana tersebut merupakan hasil tindak kejahatan.

"Kalau company kan wajar ya dia misalnya utang dipindahkan. Kalau orang pribadi kan transfer uang triliunan itu kemungkinannya hanya dua, dia pengusaha yang sangat kaya atau dia multikoruptor. Kemungkinannya kan cuma dua itu. Kalau orang pribadi kan, kalau usahanya benar ngapain harus sembunyi-sembunyi. Jadi sangat janggal," tutur Prastowo.

Pusat Pelaporan Analisis dan Transaksi Keuangan masih mendalami indikasi tindak pidana pencucian uang (TPPU) yang diduga dilakukan sejumlah nasabah Indonesia di Standard Chartered Plc, sehubungan dengan adanya transfer dana hingga Rp18,8 triliun dari wilayah Guernsey ke Singapura.

"Kami masih terus mendalami kemungkinan tindak pidana pencucian uang (TPPU) dalam hal ini," kata Wakil Kepala PPATK Dian Ediana Rae .

Dian mengatakan pihaknya tidak bisa terburu-buru untuk menyimpulkan adanya modus pencucian uang. Yang pasti, kata Dian, yang terlibat dalam transfer dana fantastis tersebut terdiri dari entitas pengusaha (individu) dan juga korporasi.

Indikasi sementara lainnya, kata Dian, adalah pelanggaran perpajakan dengan menhindari atau menyembunyikan aset guna menghindari kewajiban pajak (tax evasion). Transfer dana tersebut dilakukan pada akhir 2015 atau tepat sebelum Guernsey menerapakan "Common Reporting Standard", sebuah kesepakatan global pertukaran informasi secara otomatis terkait pajak.

Otoritas Jasa Keuangan RI (OJK) sudah meminta anak usaha Standard Chartered Plc di Indonesia untuk memberikan klarifikasi. OJK akan menentukan sikap setelah selesai mendalami penjelasan dari Standard Chartered Indonesia.

 

Bagikan :

Berita Lainnya