Prof Dr Garuda Wiko, SH, MSi

Dekan Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura

Rubrik: 

Edisi/Th: 

06/2013
"Satukan Niat, Ucapan dan Perbuatan"

Pada awalnya Universitas Tanjungpura harus menghadapi tantangan menyelenggarakan pendidikan dan proses belajar mengajar di tengah kekurangan dalam aspek sarana maupun sumberdaya. Akan tetapi, dengan semangat dan pengabdian yang tulus dari seluruh komponen universitas, tantangan tersebut kini bisa diatasi.

Dekan Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura, Prof Dr Garuda Wiko, SH, MSi kepada INTEGRITAS menjelaskan, standar penyelenggaraan pendidikan kini memang semakin tinggi. Oleh karena itu, seluruh civitas akademika, khususnya fakultas hukum, harus benar-benar mampu memahami dan memposisikan diri sesuai dengan visi universitas sebagai pusat pengembangan ilmu dan peradaban. Terlebih di tengah arus modernisasi dan perkembangan teknologi yang semakin canggih. Ia menilai kondisi pendidikan tinggi di Indonesia memang sudah semakin membaik. Baik dari sisi kualitas lulusan maupun perluasan akses untuk menikmati jenjang pendidikan tinggi. Namun, menurutnya masih ada beberapa hal yang perlu dan penting untuk ditingkatkan. Tapi sepanjang dilandasi perencanaan cermat dan menyeluruh, perbaikan akan berjalan sesuai dengan tahapannya. Salah satu masalah dari pendidikan tinggi saat ini adalah banyaknya pengangguran intelektual di Indonesia. Untuk menciptakan sarjana “siap pakai” dan menghindari pengangguran intelektual, Untan berusaha terus menerus melakukan penyesuain dan revisi kurikulum yang melibatkan seluruh stake holder. Ia menjelaskan, struktur penyusunan kurikulum di FH Untan bertujuan agar mahasiswa memiliki dua sisi kompetensi. Yaitu, memiliki kompetensi dalam pengembangan keilmuan hukum dan memiliki kemampuan dan keterampilan dalam penyelesaian persoalan hukum praksis. Dan untuk mencapai visimisi tersebut, civitas akademi telah berupaya memenuhi standar tata kelola peningkatan kegiatan akademik dosen dan mahasiswa, serta meningkatkan sarana dan prasarana untuk mendukung terciptanya akademik atmosfer yang produktif. FH Untan bahkan sudah mempersiapkan metode dan strategi untuk mempersiapkan lulusan sarjana hukum Untan dalam menghadapi era AFTA pada 2015 mendatang. Mengingat nantinya akan semakin banyak pengacara dan praktisi hukum asing masuk ke Indonesia. Salah satu metodenya dengan mempersiapkan lulusan yang sesuai dengan kebutuhan “pengguna”. FH Untan berusaha secara terus menerus melakukan penyesuaian dan revisi kurikulum yang melibatkan seluruh stake holder.

Bagikan :