Rano Karno Lantik Ranta Suharta Menjadi Sekda Prov Banten

HAS
Rano-Karno-Lantik-Ranta-Suharta-Menjadi-Sekda-Prov

Banten, mediaintegritas.com - Gubernur Banten H Rano Karno, S, IP melantik  H Ranta Suharta  sebagai Pimpinan Tinggi Madya Sekretaris Daerah Provinsi Banten menggantikan H Kurdi Matin.  Pelantikan dilakukan di Pendopo Gubernur Banten, KP3B Curug Kota Serang, Banten. Kamis (03/09/2015). 

Dalam amanatnya, Gubernur Banten Rano Karno mengatakan, posisi Sekda memiliki peranan penting dan sangat menentukan terhadap keberhasilan pelakasanaan suatu kebijakan, baik bersifat internal maupun ekternal. Secara internal menurut Gubernur, Sekda harus mampu membangun suasana kerja yang kondusif , saling percaya dan mendukung antara SKPD, sehingga suasana kompetensi yang sehat dalam berprestasi dan berkinerja dapat tercipat.  

“Saya selaku Gubernur Banten memerintahkan agar saudara  Ranta Suharta kiranya dengan jabatan baru ini harus dilandasi rasa keikhlasan dan kebesaran hati, semata-mata untuk membutkikan bahwa cita-cita leluhur rakyat Banten dan perjuangan tokoh penggagas pembentukan Provinsi Banten akan terus menjadi spirit dan inspirasi dalam menjalankan tugas dan kewajiban sehari-hari,” Ucap Gubernur. 

Menurut Gubernur Banten, peran Sekda beserta seluruh perangkat daerah merupakan satu kesatuan sebagi ujung tombak dalam menyelenggarakan urusan pemeritahan. “Untuk itu saudara (Sekda-red) harus mampu menggerakan seluruh aparatur perangkat daerah dalam satu barisan pekerja keras untuk menjalankan cita-cita pembentukan Provinsi Banten serta amanat Perda RPJMD Tahun 2012-2017,” Kata Gubernur. 

Hal utama yang harus diprioritaskan oleh Sekda, lanjut Gubernur adalah penyelesaian Laporan Hasil Pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) Provinsi Banten Tahun Anggaran 2014.  "Keberhasilan pelaksanaan tugas tidak hanya ditentukan oleh besarnya pendapatan daerah, banyaknya jumlah pegawai, atau berapa banyak piagam penghargaan yang diterima, justru yang lebih penting adalah seberapa besar tingkat kepuasan masyarakat atas kinerja yang telah dilaksanakan oleh aparatur pemerintah,” tegasnya. 

Gubernur juga memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada H Kurdi Matin yang telah melaksanakan tugas dan pengabdiannya kepada Provinsi Banten. “Semoga jasa dan pengabdian Pak Kurdi selama ini menjadi catatan amal ibadah dan bernilai pahala,” ucapnya. 

Sementara  Sekda Banten yang baru dilantik Ranta Suharta mengatakan, Ia  siap melanjutkan tugas dan pekerjaan yang sudah dilakukan oleh Sekda Banten sebelumnya, termasuk menyelesaikan LHP BPK Tahun 2014 seperti yang telah ditargetkan oleh Gubernur. 

"Saya harus siap melakukan pekerjaan yang sebelumnya sudah dikerjakan sama Pak Kurdi, dan tentu ini harus menjadi prioritas, selain menyelesaikan perencanaan anggaran tahun 2016. Mohon doanya asaja dari semuanya," kata Ranta manta Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu (BKPMPT) Provinsi Banten. 

Ranta juga mengaku akan segera mempelajari semua tugas dan pekerjaan yang belum terselesaikan. "Pekerjaannya tentu yang ditekankan oleh Pak Gubernur soal Disclaimer. Maka itu saya harus siap melakukan pekerjaan itu, terlebih sebelumnya sudah dikerjakan sama Pak Kurdi.Tentu ini harus menjadi prioritas," janjinya.

Pelantikan Sekda Banten dihadiri oleh Forum Koordinasi Pimpinan Daerah  (FKPD) Banten, Tokoh Pendiri Banten, Kepala SKDP di Lingkungan Pemprov Banten, Kiyai dan Ulama, termasuk Sekda Banten terdahulu seperti Chaeron Muchsin, Hilman Nitiamidjaya, Muhadi

Sementara itu disisi lain gelombang unjuk rasa mewarnai pelantikan Sekda Banten.  Ratusan masyarakat yang menamakan dirinya Aliasi Masyarakat Banten mendatangi kantor Gubernur Banten disaat acara pelantikan Sekretaris Daerah. Mereka menuntut agar Gubernur Banten Rano Karno fokus bekerja membenahi berbagai persoalan yang terjadi saat ini di Banten, jangan menjadikan Banten menjadi ajang politik dan kepentingan kelompok tertentu, ini bukan Betawi yang seenak ente melakukan apa saja disini, ungkap Nedi kordinator aksi dalam orasinya.

Tidak lama aksi Aliansi Masyarakat Banten Bersatu turun ke jalan, gelombang massa kembali datang dari elemen mahasiswa. Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Aliansi Mahasiswa Peduli Rakyat (Gampar) tanpa dikomando langsung melakukan orasi. Dalam aksinya, mahasiswa menilai setelah ditinggal Atut Chosiyah, Banten tidak memiliki perubahan. Bahkan, sejak Pemprov Banten dikendalikan oleh Rano situasinya lebih buruk dan memprihatinkan.  .

"Kita dibohongi lagi. Harapan tinggal sebuah harapan, Banten semaikn menangis, Banten kita semakin memburuk, kemiskinan, kesehatan, pendidikan dan APBD masih menjadi permasalahan yang tidak akan pernah selesaii," ujar Nedi Suryadi memulai aksinya.

Diruang publik, Nedi kembali menyebut data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dia peroleh, kemiskinan di Banten sejak tahun 2012 hingga tahun 2013 terus meningkat. "Dengan umur yang cukup lama menjadi pemimpin Banten, semestinya Rano dapat lebih progres dalam menangani segala program yang diunggulkan. Ini tidak, karena pemimpin kita bodoh, tidak bisa bekerja dan lebih senang membuat konflik, turunkan Rano,” teriaknya lagi.

Aksi mahasiswa dan warga ini mendapat pengawalan ketat aparat kepolisian. Akibatnya aksi mereka berbuntut ricuh. Sejumlah mahasiswa terlibat merangsek memaksa ingin bertemu Gubernur, sementara petugas dengan sigap menghalaunya. Akibatnya saling dorong dan saling lempar tidak bisa dihindari. Melihat situasi yang sudah tidak terkendali, akhirnya petugas kepolisian memukul mundur para demonstran dengan menggunakan watter canon.

Polisi berhasil membubarkan paksa aksi mahasiwa yang hampir saja berbuntut anarkis. Sejumlah aktivis baik dari mahasiwa maupun warga akhirnya berkumpul dan merapatkan barisan menuju rumah dinas gubernur. Sesampainya di rumah dinas gubernur, kembali mereka melakukan orasi meminta untuk bertemu dengan Gubernur Rano.

Teriakan ratusan peserta aksi semula berjalan damai. Namun menjelang sore hari kembali suasana menjadi tidak terkendali. Petugas kepolisan yang mengamankan situasi terpancing, dan tidak bisa dihindari kembali aksi di rumah dinas Gubernurpun kembali ricuh. Polisi berusaha untuk memukul mundur para pengunjukrasa, namun mereka bertahan dan tetap ingin bertemu dengan Gubernur Rano. Polisi bertahan, mahasiswa memaksa, dan aksi dorong-dorangan terjadi untuk kesekian kalinya.

Melihat situasi itu, kembali polisi melakukan dua kali serangan, yang pertama memaksa para pendemo dipukul mundur menggunakan water canon, kemudian polisi berseragam pengamanan lengkap menurunkan pasukan menggunakan sepeda motor dan dua ekor anjing. Pada serangan pertama, polisi berhasil membuat mahasiswa mundur hingga beberapa puluh meter, dan berikutnya polisi memaksa menutup ruang pendemo dan menggiring mundur.

Akibat bentrokan ini, sejumlah mahasiswa dan warga mengalami luka-luka akibat saling dorong dan siraman water canon. Menjelang maghrib akhirnya polisi berhasil membubarkan peserta aksi unjuk rasa. Mahasiswa dan warga berkumpul dan membubarkan diri meninggalkan rumah dinas Gubernur tanpa ditemui Rano. (Reymon S).

Bagikan :

Berita Lainnya