Rupiah tembus 20.000 per Dolar

HAS

Jakarta, mediaintegritas.com - Direktur Eksekutive Indonesia Banking Wacth (IBW) Rapen Agustinus MM, dalam siara persnya selasa 25/8 di Jakarta mengatakan tidak kaget dengan pergerakkan dolar yang begitu cepat dan perkasa terhadap rupiah hingga saat ini sudah menembus 14 ribu lebih sebentar lagi akan menyentuh 15 ribu. Bilamana pemerintah tidak melakukan upaya penyelamatan dengan kebijakan Fiskal, Moneter, Pasar Modal, Ekspor dan memperketat Inpor  bukan tidak mungkin pelemahan rupiah terhadap dolar akan mencapai puncaknya hingga 20.000, jikalau hal itu sampai terjadi Indonesia seperti negara Yunani BANGKRUT.

Bahkan beberapa pakar ekonomi dengan analisanya mengatakan bahwa rupiah tidak akan menembus 13 ribu, karena BI akan melakukan upayakan penyelamatan fundamental ekonomi dan analisa dan pendapat ini banyak didukung pemerintah, tapi faktanya sekarang dah 14 ribu meleset dari analisa dan perhitungan, karena faktor ini bukan hanya hitung-hitungan ekonomi semata ada beberapa faktor lainnya juga seperti politik dan hukum tanpa disadari itu sangat mempengaruhi suatu perekonomian suatu bangsa atau negara.

Presiden Jokowi mengatakan untuk menahan pelemahan rupiah pemerintah bakal meningkatkan nilai ekspor di sektor industri dan menekan laju impor. Selain itu, menurut Jokowi, Bank Indonesia sudah melakukan intervensi pasar dengan guyuran dolar agar nilai tukar rupiah tidak semakin terpuruk, bahkan Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo menyampaikan bahwa kondisi perekonomian nasional saat ini lebih baik dibandingkan dengan ketika terjadi krisis keuangan pada 1998 dan 2008.

Dikarenakan  angka inflasi sekarang masih terkendali dan Cadangan devisa kita jauh lebih tinggi, volatilitas nilai tukar lebih terkendali" kata Agus di Istana Bogor.

Pernyataan Gubernur BI hanya untuk meredam sesaat saja, padahal faktanya saat ini ekonomi melambat dan neraca perdangan mengalami defisit, di samping itu sentimen negatip kepada pemerintah atas kebijakan Reshuffle Kabinet.

Pasca Reshuffle Kabinet dolar semakin perkasa, masyarakat sudah kecewa karena yang direshuffle bukan menteri yang kinerja buruk yang diganti disitu sentimen negatif kepada pemerintah, ujar Rapen yang juga dosen perbankan di UKI.

Bukti lain tidak kompaknya pemerintah paska Reshuffle Kabinet muncul perseteruan  atau perang kata-kata yang melibatkan Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Sumber Daya, Rizal Ramli, dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla serta Menteri BUMN Rini Soemarno terkait kebijakan ekonomi ini juga yang membuat sentimen negatif kepada pemerintah.

Oleh karena itu untuk menyelamatkan perekonomian indonesia, Pemerintah diharapkan solid dan satu suara dalam kebijakan misalnya mengajak seluruh pimpinan daerah dan pengusaha duduk bersama untuk membicarakan paket kebijakan fiskal, moneter,pasar modal hingga industri dengan adanya kesepahaman tentunya kebijakan itu akan jalan dan efektif, dan Presiden dan menterinya tidak hanya tebar pesona karena perekonomian kita sudah lampu kuning.

Bilamana kondisi ini tidak dijawab pemerintah dengan sungguh-sungguh kebangkrutan sudah didepan mata. Ujarnya (HAS)

Bagikan :

Berita INTEGRITAS