Suku Asmat, Peramu dan Pemahat Ulung

Deborah

Jakarta, mediaintegritas.com - Pernahkah anda mendengar sebutan Kota diatas Papan atau melihat motor yang dicharge? Penasaran? Jika ya, maka rasa penasaran anda akan hilang saat berada di salah satu kota unik di Papua: Agats. Di sinilah mukim Suku Asmat.

Kota Agats merupakan ibukota dari Kabupaten Asmat, pemekaran dari wilayah Kabupaten Merauke pada tahun 2002. Kota Agats berdiri diatas rawa mangrove dengan rumah panggung dan jalanan dari papan kayu. Beberapa jalan utama sudah menggunakan beton, namun kota Agats tetap khas sebgai kota diatas papan. 

Suku yang terkenal adalah suku Asmat. Dalam mitologi suku Asmat dipercayai sebagai keturunan dewa Fumeripitsy. Suatu saat dewa Fumeripitsy terluka parah saat berkelahi melawan buaya. Lalu datang burung Flaminggo menolongnya.

Sang dewa lalu membangun sebuah rumah, membuat dua patung dan genderang. Ia menari dengan kuat sehingga kedua patung yang dibuatnya hidup dan ikut menari bersamanya. Itulah yang dipercaya sebagai nenek moyang suku Asmat.

Suku Asmat dikenal sebagai bangsa peramu dan pemahat ulung. Dunia Internasional mengakui kehebatan suku Asmat di bidang ini. Hasil kerajinan tangan mereeka bernilai seni dan menyimpan filosofi yang dalam.

Suku Asmat terbagi menjadi dua kelompok besar, yakni mereka yang tinggal di pesisir dan di pedalaman. Umumnya mereka bekerja sebagai nelayan, pemburu dan petani kebun. Ada juga yang menjadi PNS dan pedagang.

Satu-satunya alat transportasi yaitu motor listrik. Motor harus di-cas jika bahan bakarnya habis. Mobil tak bisa digunakan karena kondisi jalan yang tak kuat menahan beban mobil. 

Jika ingin berkunjung ke Kabupaten Asmat, pilihan transportasi yang digunakan hanya dua. Pertama, pesawat dari Bandara Timika dengan harga tiket Rp 1 juta per orang. Kedua, speed boat atau kapal Pelni. (Tempo Travel)

Bagikan :

Berita INTEGRITAS