Tidak Setuju Jadi Partai, TEMPO Akan Bubarkan Parpol PARKINDO

Roy Jon
PARKINDOPARTAIPOLITIK

Jakarta, mediaintegritas.com -Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partisipasi Kristen Indonesia (Parkindo) versi Tim Penyelamat Organisasi Parkindo atau disingkat Tempo, T.S Panangian Sihombing menyampaikan, pihaknya akan membubarkan aktivitas yang mengatasnamakan Parkindo sebagai Partai Politik.

 “Kami berhak membubarkan kepengurusan mereka, karena mereka itu orang-orang penumpang gelap,” ujar Panangian Sihombing di sela-sela pelantikan Kepengurusan DPP Ormas Parkindo Periode 2015-2020 di Hotel Grand Menteng, Matraman, Jakarta Timur, (Kamis, 07/10/2015).

 Bagi Panangian, ide Organisasi Kemasyarakatan Partisipasi Kristen Indonesia (Ormas Parkindo) sejak masa Orde Baru adalah tidak berpolitik praktis. Memang, pada awalnya Parkindo adalah sebuah Partai Politik yang di era Presiden Soekarno ber-fusi dengan sejumlah partai politik lainnya ke dalam sebuah wadah Partai Politik bernafaskan Nasionalisme.

 Panangian juga menyesalkan sikap Ketua Umum DPP Parkindo hasil Muasyawarah Nasional III Parkindo Alida Guyer yang membangun wacana dan mendorong PARKINDO kembali menjadi sebuah partai politik.

 “Itu tidak termasuk dalam usulan Munas kemarin. Hal itu terbukti, ketika Alida bersama kelompoknya langsung mengadakan acara diskusi publik di Jakarta berapa waktu lalu, yang sengaja menggiring opini supaya ormas Parkindo menjadi partai politik,” ujar dia.

 Menurut Panangian, Alida memang tak tahu sejarah Parkindo. Bagi pria yang akrab disapa dengan nama Ian ini, niat Alida Guyer menjadikan Parkindo menjadi partai politik hanya tujuan politik pragmatis.

 “Partai Parkindo di jaman Soekarno sudah berbeda dengan jaman sekarang. Dan, pada waktu rejim Soeharto melakukan kebijakan fusi partai, Parkindo berfusi dengan partai nasionalis. Lalu, orang-orang yang tak mau masuk partai akhirnya membuat Yayasan yang bernama Yayasan Komunikasi Indonesia, yang pada akhirnya melahirkan ormas Parkindo. Jadi kalau menjadikan partai hanya mimpi semata,” jelasnya.

Untuk itulah, Panangian mengklaim kubunya sebagai Pengurus DPP Parkindo yang sah dan diakui oleh Yayasan Komunikasi Indonesia.  Panangian menegaskan, ormas Parkindo tak perlu menjadi partai politik, karena akan menambah perpecahan di tingkatan basis. Terlebih lagi, selama ini ormas Parkindo lama terlelap dalam tidur, tak ada aktivitas organisasi.

 “Kalau mau membesarkan Parkindo, harus kita tunjukan dulu karya nyata di tengah masyarakat. Biarkan juga masyarakat yang menilai, apakah Parkindo layak menjadi partai atau tetap ormas. Bukan langsung terbawa nafsu politik untuk menggiring Parkindo menjadi partai. Bagi kami, mereka yang menggiring Parkindo menjadi partai hanya kumpulan orang yang bermimpi di siang bolong,” ujar dia.

 Sebelumnya, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Partisipasi Kristen Indonesia (DPP Parkindo) Alida Guyer menegaskan, pentingnya partai Kristen di Indonesia. Dia beralasan, partai Kristen berada di Indonesia bukan sekedar ada, akan tetapi kehadiran umat Kristen dalam membangun kesejahteraan bagi masyarakat Indonesia.

 “Parkindo harus kembali ke roh asal, atau ke partai politik,” kata Alida dalam diskusi Antar Lembaga Keumatan Kristen “PARKINDO Menuju Partai?”, di gedung Sinar Kasih, Jakarta, Selasa (22/9/2015).

 Hadir dalam diskusi yang dipandu mantan Walikota Siantar Marim Purba, dengan pembicara politisi PDIP Sabam Sirait, dan mantan Sekretaris Jenderal DPP Parkindo (partai) Supardan.

Lebih lanjut, Alida yang juga mantan Sekretaris Jenderal Persekutuan Intelegensia Kristen Indonesia (PIKI) itu mengatakan, partai Kristen hadir dalam membangun nilai-nilai kekristenan dalam mewarnai legislatif, eksekutif, dan eksekutif.

“Harus dikembalikan roh Parkindo seperti yang didirikan oleh Fauding Father kita. Sehingga jelas jati diri kekeristenan mewarnai negeri ini,” papar perempuan yang terpilih sebagai Ketua Umum DPP Parkindo Masa Bakti 2015-2020 pada Munas III Parkndo di Hotel Grand Cempaka, Jakarta pada Agustus 2015 lalu itu.

Dia mengatakan, belajar pengalaman di Amerika Serikat ketika Mahkamah Agung memutuskan legalnya masalah aborsi, dan pernikahan sejenis menjadi persoalan tersendiri bagi umat Kristiani di negeri Pamam Sam itu.

“Jadi keinginan umat Kristiani di Amerika berdirinya partai Kristen untuk membangun nilai-nilai Kristiani dengan menentang theologia modern, aborsi, dan pernikahan sejenis,” ujar Alida.

Mantan Sekretaris Jenderal DPP Parkindo Supardan mengatakan, setelah fusi Parkindo ke Partai Demokrasi Indonesia (PDI) selanjutnya mendirikan Yayasan Komunikasi (Yakoma) untuk mengantisipasi dan menjalankan ide-ide Parkindo.

“Dilakukan dengan cara-cara pembinaan, supaya disiapkan jalan Parkindo itu tetap hidup, dengan melakukan pelatihan kader,” terang Supardan.

Menurutnya, Parkindo secara tegas menolak faham Marxisme, Leninisme, dan Fundamentalisme. Akan tetapi, lanjutnya, tetap membangun semangat nasionalisme dengan berpedoman pada Pancasila sebagai nilai-nilai dasar negara.***Richard

Bagikan :

Berita INTEGRITAS